Use standard camera, canon eos-400d with 18-55 lense
Custom Search

Monday, May 11, 2009

Era Digitalisasi

Jika kita melihat kebelakang untuk beberapa masa yang silam, maka dapatlah kita tarik satu garis perkembangan yang bersifat eksponensial, yaitu suatu pola pertumbuhan menuju ke arah digitalisasi, yang mulai terlihat jelas dari sejak ditemukannya semi-konduktor dan logika flip-flop. Dari sejak itu perlahan namun pasti mulai dikembangkan mesin hitung elektronik, jam digital, komputer dan bukan itu saja bahkan dari dunia telekomunikasi melahirkan tehnologi coding dan decoding gelombang analog yang menghasilkan gelombang digital, yang mana hal ini jelas telihat dari pemakaian digital-telex, faximile, televisi dan lain sebagainya.

Kini, perpaduan antara gelombang digital dan tehnologi komputer, telah melahirkan turunan-tuturan yang tidak kecil manfaatnya di era industrialisasi dan juag globalisasi. Telepon genggam, dan email merupakan sebagian contoh dari kemajuan tehnologi ini. Kini, pertumbuhan tehnologi berkembang demikian pesat, sehingga hari ini terlihat begitu jauh berbeda dengan masa lampau, jikalau di masa lalu dapat dikatakan sebagai era komputerisasi, maka kini dan yang akan datang lebih tepat dikatakan era digitalisasi. Hal ini tentu saja didasari dengan perkembangan tehnologi yang segera akan digikuti oleh pola berfikir dan kebiasaan masyarakat.

mage processing, merupakan salah satu gancu pemecah es-nya, dimana bongkahan masa lalu, seperti orang menyimpan foto cetak, negatif film serta pemakaian peralatan fotografi yang dikenal sangat mahal tersebut hanya akan menjadi rangkaian sejarah dan tontonan di musium fotografi.

Sejak dihadirkannya kamera digital yang pertama, banyak potografer profesional yang memberikan tanggapan negatif, ini tentu saja disebabkan oleh hasil dan keterbatasan tehnologi pada masa itu, namun demikian pada umumnya mereka sangat menaruh harap akan kamera digital yang canggih.

Faktor kebiasaan, juga merupakan penghalang suksesnya kamera digital pada masa itu, dimana setiap kamera digital harus dilengkapi dengan peralatan komputer untuk memprosesnya, walaupun tidak, untuk mencetaknya mereka menemuhi kesulitan, belum lagi menyimpannya.

Kini, tidak kita sadari bersama ternyata kita telah memasuki era digital, berbagai perusahaan besar elektronik seperti Canon, Sanyo, ITT, Samsung, LG, Sony dll. telah menetapkan misinya kearah digitalisasi , dan berbagai peralatan digital juga telah mereka pasarkan seperti plasma-monitor, handphone, CD player dan yang lebih menonjol lagi Digital Camera yang diproduksi oleh berbagai produsen dan berlomba memberikan fitur untuk hasil yang terbaik.

Seorang potografer profesional lulusan dari perguruan tinggi fine arts and photography, Melbourne, Australia, bernama Genarld Gay, berkeyakinan kuat bahwa kamera digital dapat menggantikan kamera konvensional, dan hal ini dibuktikan melalui karya-karyanya yang digelar dalam buku MOROCCO, terbitan TTL production ( www.ttlens.com ) dimana karya karyanya dibuat dengan kamera digital.

Indoor - Outdoor Flash dan Bounce/Diffuse

Penggunaan Flash sangat membantu apabila kita pemotret pada ruangan yang kondisi cahaya gelap. Tapi apabila kita tidak tepat mengatur setting untuk penggunaan flash, maka hasil foto tidak akan maksimum, terkadang masih kurang terang atau bahkan terlalu terang. Untuk itu artikel lanjutan ini akan menjelaskan bagaimana penggunaan indoor flash dan juga bagaimana outdoor flash digunakan serta penjelasan tentang bounce dan diffuse flash.

Indoor Flash

Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.

Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.

  1. Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.
  2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).
  3. Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.
  4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 – 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut.

Bounce/Diffuse

Flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:

  1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
  2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).

Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian. Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek. Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:

  1. Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.
  2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
  3. Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
  4. Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.

Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.

Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. Flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat. Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.

Outdoor Flash

Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:

  1. Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
  2. Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
  3. Obyek berada pada open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
  4. Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
  5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.

Monday, May 4, 2009

Canon EOS 500D


With 15.1 Megapixels and Full HD video capability, the Canon EOS 500D is a digital SLR for those who want to capture more than one side to life’s significant moments. A resolution of 15.1 Megapixels records each moment in rich, intricate detail, ready to turn into poster-size prints or crop to perfection. When light levels fall, an ISO range of up to 3200 - expandable all the way up to 12800 - lets you carry on shooting in the darkest of conditions, while Canon’s DIGIC 4 processing ensures that noise doesn’t spoil images. This is particularly ideal for when you can’t, or don’t want to, use flash.
The EOS 500D heralds a new way for photography enthusiasts to capture their world. It pairs outstanding still image capture with Full HD 1080P video recording. For longer video shoots, users can also choose lower shooting resolutions of 720P or VGA. A built-in HDMI connection allows easy and instant review of images and movie clips on any compatible HDTV.

Every detail revealed
Exacting image preview and review is provided by a 3.0” Clear View LCD screen.The same screen as used on the acclaimed 5D Mark II, it features a 920,000 dot count – for ultra-detailed image review, accurate focus checks, and clear access to the EOS menu system. As well as aiding shooting from awkward angles, Live View mode includes contrast based and Face Detection AF options. Ideal for newcomers to digital SLR photography, these allow compact-camera style auto focus, with a real-time image displayed on the LCD.

Features at a glance:

  • 15.1 Megapixel APS-C CMOS sensor
  • Full HD movie recording with HDMI connection for viewing and playback on an HDTV
  • ISO 100-3200 (expandable to 12800)
  • 3.4 frames per second continuous shooting
  • Max. 170 large JPEG images in a single burst
  • 3.0” ClearView LCD with Live View mode
  • 9-point wide area AF with cross type centre point
  • High speed DIGIC 4 performance and superb image quality
  • EOS Integrated Cleaning System
  • Full compatibility with Canon EF and EF-S lenses and EX-series Speedlites, including the new Speedlite 270EX and two new tilt and shift lenses TS-E 17mm f/4L and TS-E 24mm f/3.5L II
Specification:
Type
Type
Digital, single-lens reflex, AF/AE camera
Recording Media
SD memory card, SDHC memory card
Image Sensor Size
22.3mm x 14.9mm (APS-C size)
Compatible Lenses
Canon EF lenses including EF-S lenses (35mm-equivalent focal length is approx. 1.6x the lens focal length)
Lens Mount
Canon EF mount
Image Sensor
Type
High-sensitivity, high-resolution, large single-plate CMOS sensor
Pixels
Effective pixels: Approx. 15.10 megapixels
Total Pixels
Total pixels: Approx. 15.50 megapixels
Aspect Ratio
3:2 (Horizontal: Vertical)
Color Filter System
RGB primary color filters
Low-pass Filter
Fixed position in front of the CMOS sensor
Dust Deletion feature
(1) Self Cleaning Sensor Unit
(2) Dust Delete Data appended to the captured image
(3) Manual cleaning of sensor
Recording System
Recording Format
Design rule for Camera File System 2.0 and Exif 2.21
Image Type
Still: JPEG, RAW (14-bit, Canon original), RAW+JPEG
Video: MOV (Image data: H.264, Audio: Linear PCM)
File Size
(1) Large/Fine: Approx. 5.0MB (4752 x 3168 pixels)
(2) Large/Normal: Approx. 2.5MB (4752 x 3168 pixels)
(3) Medium/Fine: Approx. 3.0MB (3456 x 2304 pixels)
(4) Medium/Normal: Approx. 1.6MB (3456 x 2304 pixels)
(5) Small/Fine: Approx. 1.7MB (2352 x 1568 pixels)
(6) Small/Normal: Approx. 0.9MB (2352 x 1568 pixels)
(7) RAW: Approx. 20.2MB (4752 x 3168 pixels)
Exact file sizes depend on the subject, ISO speed, Picture Style, etc.
File Numbering
Consecutive numbering, auto reset, manual reset
RAW + JPEG Simultaneous Recording
Provided (RAW, RAW+JPEG)
Color Space
sRGB, Adobe RGB selectable
Picture Style
Standard, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful, Monochrome, User Def. 1-3
Image Processing
Type
Auto, Daylight, Shade, Cloudy, Tungsten Light, White Fluorescent Light, Flash, Custom
Color Temperature Compensation
White balance correction: ±9 stops in full-stop increments
White balance bracketing: ±3 stops in full-stop increments
Blue/amber direction or magenta/green direction possible
Color Temperature Information Transmission
Provided
Viewfinder
Type
Eye-level pentaprism
Coverage
Vertical/Horizontal approx. 95%
Magnification
Approx. 0.87x (-1m-1 with 50mm lens at infinity)
Eyepoint
Approx. 19mm (from eyepiece lens center)
Built-in Dioptric Adjustment
-3.0 to +1.0m-1 (diopter)
Focusing Screen
Fixed, Precision Matte
Mirror
Quick-return half mirror (transmission: reflection ratio of 40:60, no mirror cut-off with EF600mm f/4L IS USM or shorter lenses)
Viewfinder Information
AF information (AF points, focus confirmation light), exposure information (shutter speed, aperture, AE lock, exposure level, ISO speed, exposure warning), flash information (flash ready, high-speed sync, FE lock, flash exposure compensation), monochrome shooting, white balance correction, maximum burst, SD memory card information
Depth-of-Field Preview
Enabled with depth-of-field preview button
Autofocus
Type
TTL-CT-SIR AF-dedicated CMOS sensor
AF Points
9 AF points (center AF point is cross-type)
Metering Range
EV -0.5-18 (at 73°F/23°C, ISO 100)
Focusing Modes
Auto, One-Shot AF, Predictive AI Servo AF, AI Focus AF, Manual Focusing (MF)
AF Point Selection
Automatic selection, manual selection
Selected AF Point Display
Superimposed in viewfinder and indicated on LCD monitor
AF-assist Beam
Intermittent firing of built-in flash
Effective range: Approx. 4.0m/13.1 ft. at center, approx. 3.5m/11.5 ft. at periphery. When EOS-dedicated Speedlite attached, the Speedlite`s AF-assist beam is emitted instead.
Exposure Control
Metering Modes
35-zone TTL full-aperture metering
  • Evaluative metering (linkable to any AF point)
  • Partial metering (approx. 9% of viewfinder at center)
  • Spot metering (approx. 4% of viewfinder at center)
  • Center-weighted average metering

Metering Range
EV 1-20 (at 73°F/23°C with EF50mm f/1.4 USM lens, ISO 100)
Exposure Control
Program AE (Shiftable), Shutter-priority AE, Aperture-priority AE, Depth-of-field AE, Full auto, Full auto, Programmed image control mode, Manual exposure, E-TTL II autoflash program AE
ISO Speed (Recommended Exposure Index)
ISO 100-3200 (in 1-stop increments), H1: 6400 H2: 12800; Basic Zone modes: ISO 100-3200 set automatically
Exposure Compensation
Manual: ±2 stops in 1/3- or 1/2-stop increments (can be combined with AEB)
AE Lock
Auto: Applied in One-Shot AF mode with evaluative metering when focus is achieved; Manual: By AE lock button
Shutter
Type
Vertical-travel, mechanical, focal-plane shutter with all speeds electronically controlled
Shutter Speeds
1/4000 sec. to 1/60 sec., X-sync at 1/200 sec.
1/4000 sec. to 30 sec., bulb (Total shutter speed range.
Available range varies by shooting mode)
Shutter Release
Soft-touch electromagnetic release
Self-timer
10-sec. or 2-sec. delay or 10-sec. delay plus continuous shooting
Remote Control
Remote Switch RS-60E3
Remote Controller RC-1/RC-5
Built-in Flash
Type
Retractable, auto pop-up flash
Flash Metering
E-TTL II autoflash
Guide Number
13/43 (ISO 100, in meters/feet)
Recycling Time
Approx. 3 sec.
Flash-ready Indicator
Flash-ready icon lights in viewfinder
Flash Coverage
17mm lens angle of view
FE Lock
Provided
Flash Exposure Compensation
±2 stops in 1/3- or 1/2-stop increments
Drive System
Drive Modes
Single, continuous, self-timer (10 sec. or 2 sec. delay)/remote control
Continuous Shooting Speed
Max. 3.4 shots/sec. (with One-Shot AF or AI Servo AF)
Maximum Burst
JPEG (Large/Fine): Approx. 170, RAW: Approx. 9
Based on Canon`s testing standards with a 2GB SD memory card, ISO 100 and Standard Picture Style
Varies depending on the subject, SD memory card brand, image-recording quality, etc.
Live View Functions
Shooting Modes
Still photo shooting and video shooting
Focusing
Autofocus (One-Shot AF): Live mode, Face Detection Live mode, Quick mode; Manual focus (5x or 10x manually)
Metering Modes
Real-time evaluative metering with image sensor
Metering Range
EV 0-20 (at 73°F/23°C with EF 50mm f/1.4 USM lens, ISO 100)
Grid Display
Provided (Two grid displays)
Exposure Simulation
Provided
Silent Shooting
Not provided
LCD Monitor
Type
TFT color, liquid-crystal monitor
Monitor Size
3.0 in.
Dots
Approx. 920,000 dots (VGA)
Coverage
Approx. 100%
Viewing angle: 170°
Brightness Adjustment
7 levels provided
Interface Languages
25 (English, German, French, Dutch, Danish, Portuguese, Finnish, Italian, Norwegian, Swedish, Spanish, Greek, Russian, Polish, Czech, Hungarian, Romanian, Ukraine, Turkish, Arabic, Thai, Simplified/Traditional Chinese, Korean, Japanese)
Image Playback
Display Format
Single image, Single image + Image-recording quality, shooting information, histogram, 4- or 9-image index, magnified view (approx. 1.5x-10x), rotated image, image jump (by 1/10/100 images or shooting date)
Highlight Warning
Provided (Overexposed highlights blink)
Image Protection and Erase
Protect
Erase protect (or cancel) each image individually
Erase
Single image, selected images or all images in the SD card can be erased (except protected images)
Direct Printing
Compatible Printers
PictBridge-compatible printers
Printable Images
JPEG images compliant to Design rule for Camera File System (DPOF printing possible) and RAW images captured with the EOS Rebel T1i
Easy Print feature
Provided
DPOF: Digital Print Order Format
DPOF
Version 1.1 compatible
Direct Image Transfer
Compatible Images
JPEG and RAW images
*Only JPEG images can be transferred as wallpaper on the personal computer screen
Customization
Custom Functions
Total 13
My Menu Registration
Up to 6 menus, Custom functions and other top-tier options can be registered
Interface
USB Terminal
For personal computer communication and direct printing (USB 2.0 Hi-Speed)
Video Out Terminal
(1) Video OUT terminal: NTSC/PAL selectable
(2) mini-HDMI OUT terminal
Power Source
Battery
One Battery Pack LP-E5
AC power can be supplied via AC Adapter Kit ACK-E5
With Battery Grip BG-E5, AA-size batteries can be used
Number of Shots
Temperature Shooting Conditions
No flash 50% flash use
At 73° F/23° C approx. 500 approx. 400
At 32° F/0° C approx. 490 approx. 380
Live View shooting at 73°F/23°C approx. 190 approx. 170
Live View shooting at 32°F/0°C approx. 180 approx. 160

Battery Life
The above figures apply with a fully-charged Battery Pack LP-E5
The figures above are based on CIPA (Camera & Imaging Products Association) testing standards
Battery Check
Automatic
Power Saving
Provided. Power turns off after 30 sec., 1, 2, 4, 8, 15 min.
Back-up Battery
Built-in secondary battery
Start-up Time
Approx. 0.1 sec. (based on CIPA testing standards)
Dimensions and Weight
Dimensions (WxHxD)
Approx. 5.1 x 3.8 x 2.4 in./128.8 x 97.5 x 61.9mm
Weight
Approx. 16.9oz./480g (body only)

Wednesday, April 29, 2009

Teknik foto pemandangan (landscape)

Negeri kita, Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Maka tak heran kalau negeri ini memiliki banyak pantai indah dengan corak beragam. Mulai dari pantai berpasir putih sampai berbatu karang yang menyeramkan. Selain keindahan pantai, keindahan daratan negeri kita pun tak kalah menarik dan beragam. Sebagian besar daratan Indonesia ditutupi pepohonan, bahkan di beberapa daerah masih berupa hutan lebat. Selebihnya, daratan negeri ini dihiasi ladang-ladang pertanian.
Banyak yang kurang menyadari kalau kita memiliki tambang emas panorama alam yang sangat indah. Tambang emas yang tidak akan pernah habis digali dan dijelajahi seumur hidup sekalipun. Baik pemandangan daratan/lanskap (landscape), pemandangan pantai dan laut (seascape), pemandangan gunung dan dataran tinggi (mountainscape), dan pemandangan bawah laut (un­derwater world). Contoh-contoh pemandangan ini bisa Anda lihat pada kartu pos bergambar pemandangan alam Indonesia yang bisa ditemui di toko-toko. Indah dan beragam sekali bukan?

Selanjutnya, yang menjadi masalah, bagaimana keindahan dan kekayaan pemandangan tersebutdapat direkam ke dalam sebuah gambaryang menawan?

Menyatu dengan Alam

Foto pemandangan yang sesungguhnya, tidak dapat dibidik dari jendela mobil yang berjalan, seperti banyak dilakukan oleh wisatawan. Karena hasilnya, hanyalah foto bidikan turis, sebuah dokumentasi perjalanan. Mengapa demikian?

Jawabannya terletak pada alam yang memiliki keindahan tersendiri. Kita harus terlibat dan berusaha merasakan suatu kesatuan di dalamnya. Tak cukup hanya memandangnya saja. Fotografer harus mengenal dan menyatu dengan subjeknya, pemandangan. la harus berada di sana. Merasakan sejuknya angin pagi hari, dinginnya malam atau berkeringat disengat teriknya matahari.

Membidik pemandangan sama seperti menyusun suatu komposisi musik. Anda harus merasakannya. Anda harus menikmatinya. Jika Anda tidak merasa hidup bersamanya, Anda tetap menjadi orang asing. Tidak mampu menghayati semangat dan kehidupan alam. Anda bisa merekam gambar alam, tetapi mati. Anda tidak mampu menghadirkan rekaman alam yang memiliki semangat hidup (spirit of nature).


Unsur-unsur Foto Pemandangan

Sebuah pemandangan memiliki berberapa unsurpenting seperti tanah (padang, gunung), air (laut, pantai, danau, aliran sungai), tumbuhan (pepohonan, rumput), dan langit (awan, cuaca). Setiap pemandangan memiliki unsur-unsur ini dalam susunan dan proporsi berbeda. Hal inilah yang memberikan ciri khas sebuah pemandangan.


Langit (dengan penampilan awan) memiliki peranan penting bagi keseluruhan gambar. Karena, langit biasanya menempati ruang gambar secara dominan. Kecerahan langit serta bentuk dan irama awan akan memberikan kesan tersendiri. Sebuah pemandangan selalu memiliki ekspresi. Bagian penting yang memberikan ekspresi adalah bentuk dan susunan awan saat itu.

Perubahan alam juga menjadi bagian ekspresi sebuah pemandangan. Gejalaalam seperti mendung, hujan, matahari terbitatau terbenam, bulan purnama, dan cahaya utara dapat membentuk ekspresi berbeda bagi sebuah pemandangan. Sama seperti perubahan roman wajah manusia.

Sudah menjadi kewajiban seorang fotografer, memilih apa yang akan ditampilkannya, yang menjadi isi fotonya. Hal ini biasanya lebih banyak bersifat subjektif. Tetapi, fotografer haruslah jujur terhadap naluri dan perasaan pribadinya. Menghormati pandangan asli, tanpa merusakatau menambahkan unsur asing. Apalagi menggunakan trik atau manipulasi berlebihan.



Pengaruh Utama: Cahaya

Ditinjau dari sisi fotografi, perbedaan besar yang kita temui dari tempat satu dengan tempat lainnya adalah keadaan cahaya. Sumber cahaya utama di alam, matahari, memiliki sifat yang sangat khusus. Berbagai hal menarik sering kita lihat. Baik itu penduduk (people), kesenian, atau panorama indah. Seringkali, kita tidak menyadari ada sesuatu yang besar di sana, yaitu cahaya.

Cahaya menerangi subjek. la memberikan pengaruh paling kuat. Sedemikian kuatnya, ia bisa mengubah segala-galanya. Bisa mendukung kita mendapatkan bentuk gambar yang luar biasa atau sebaliknya, merusak dan sangat mengganggu.

Cahaya mempengaruhi seluruh pembentukan gambar. Bukan hanya pengukuran dan keputusan pencahayaan saja, tetapi bentuk, titik pandang, komposisi, rasa kedalaman, desain dan penampilan dimensi dipengaruhinya. Cahaya jugamempunyai andil besar dalam maknadan suasanayang tampil dalam gambar. Kondisi cahaya berbeda, akan menciptakan gambar dan makna sangat berbeda, walaupun objeknya sama.

Kemampuan (Skill)
Keterampilan seorang fotografer saat membidik pemandangan, tergantung kemampuan teknis (skill') dan pengalaman pengamatan (sense) pribadinya. Saat memotret pemandangan, kita akan mengalami kesulitan bila mengandalkan trik atau berbagai teknik manipulasi. Karena, pada foto pemandangan, kita dituntutmampu merekam subjek dengan kualitas gambar sebaik-baiknya. Ini berarti, fotografer harus mampu bekerja dengan teknik kerja, peralatan dan material yang dimilikinya secermat mungkin. Semua pekerjaan harus dilakukan dengan ketelitian optimal. Setiap keteledoran, kelalaian atau ketidaktahuan akan langsung mempengaruhi pembentukan gambar.


Pencahayaan Optimal Film

Kemampuan utamayang harusdimiliki adalah memahami pencahayaan optimal terhadap film. Banyak fotografer mengabaikan hal ini. Padahal, kemampuan ini merupakan hal paling pokok dan penting dalam fotografi. Sebab, saat kita melakukan pencahayaan tei-sebut, kita mei-ekam gambar. Bagaimanapun hasil gambai- yang akan dibuat, ia akan sangat tergantung mutu perekamannya. Kualitas rekaman sangat mempengaruhi penampilan akhir gambar itu sendiri. Buruknya mutu rekaman, akan membuat keseluruhan penampilan akhir gambar itu berkualitas rendah. Dan, tidak bisa dipresentasikan ke manapun juga.

Untuk mendapatkan hasil pencahayaan optimal, fotografer harus mengerti kondisi kecerahan yang dihadapinya. Kemudiaan, baru ia bisa mempertimbangkan bagaimana dia harus memutuskan pencahayaan akhir terhadap filmnya. Oleh karena itu, ia harus mahir menggunakan alat pengukur secara optimal untuk mengetahui kondisi kecerahan yang ada.

Di alam, kondisi cahaya berubah-ubah dan kondisi keseluruhan pemotretan sulit diprakirakan terlebih dahulu. Karenanya, seringkali fotografer menghadapi banyak kesulitan jika hanya mengandalkan satu alat pengukur atau satu metode pengukuran saja. Misalnya, pengukuran rata-rata (av­erage metering} melalui pengukur cahaya kamera.

Sewaktu membidik foto pemandangan, penguasaan teknik-teknik pengukuran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki. Kondisi cahaya yang berbeda-beda terkadang juga harus dihadapi dengan teknik pengukuran berbeda. Misalnya, pengukuran cahaya rata-rata kamera hanya bisa bekerja cukup optimal pada kondisi kecerahan yang merata (misalnya cahaya depan). Jika terdapat perbedaan kecerahan dalam pandangan kamera, maka ketepatan hasil pengukurannya hampir past! tidak bisa diandalkan, atau tidak bisa dipercaya lagi. Untuk hal ini, kita harus menanganinya dengan teknik pengukuran lain.

Misalnya, pengukuran cahaya jatuh (incident light metering). Tetapi, pengukuran cahaya jatuh juga memiliki keterbatasan. Sebab, kita tidak bisa mengukur keseluruhan perbedaan kecerahan dari yang paling terang sampai pal­ing gelap atau kondisi cahaya khusus dimana terdapat perbedaan ekstrim antara area paling terang dengan yang paling gelap. Dalam keadaan ini, pengukur cahaya titik (spot metering) lebih handal dipergunakan.

Masalah selanjutnya, menggunakan alat-alat pengukur tadi saat memotret bukanlah hal yang mudah. Banyak kondisi cahaya yang sering membingungkan kita, menentukan teknik pengukuran mana yang efektif. Dengan menggunakan teknik pengukuran berbeda pada suatu kondisi cahaya, kita bisa mendapatkan nilai pencahayaan yang berbeda. Atau mungkin juga, kita tetap mendapatkan nilai pencahayaan yang sama. Meskipun, kita berhadapan dengan berbagai kecerahan yang berbeda.

Hal ini memang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Hasil pengukuran dan keputusan pencahayaan yang efektif hanya bisa diperoleh dari pangalaman kerja yang teliti. Pengalamanlah yang akan mengajarkannya kepada kita. Bagaimana bekerja efektif. Bagaimana menghadapi berbagai kondisi cahaya. Bahkan, kondisi yang kurang menguntungkan.

Kepekaan Artistik

Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah kepekaan artistik (sense of art). Kemampuan ini juga harus diasah perlahan-lahan. Kepekaan artistik juga terbentuk dalam waktu yang cukup panjang. Melalui pengalaman, fotografer akan paham bagaimana caranya memilih dan menata berbagai bentuk (objek di alam) menjadi suatu gambar yang menawan.

Bagaimana kita mengenal bentuk, ruang , dan penataannya menjadi sebuah gambar harus dipelajari juga secara bertahap. Dari hal yang paling mudah, komposisi yang kompleks, bahkan penampilan yang cenderung abstrak.

Dasar untuk mendapatkan kepekaan artisik ini adalah pengamatan.

Kita harus melatihnya agar dapat melihat suatu subjek atau bentuk dari sudut pandangan yang paling menarik. Meskipun, subjek itu dalam keadaan biasa sehari-hari. Kemahiran dan kemajuan kita atas hal ini sangat tergantung diri kita masing-masing. Karena, pemilihan subjek dan pandangan terbaik terhadapnya tergantung keputusan pribadi.

Kita sendiri yang melihat melalui kamera. Kita jugalah yang harus memutuskan apayang harus ditangkap menjadi gambar. Disamping itu, hasil yang diperoleh juga tergantung pada peralatan dan sistem kerja kita sendiri. Kita bisa menggunakan karya orang lain sebagai referensi kerja. Walaupun begitu, gambar yang terbentuk pada film kita, sekali lagi adalah pilihan dan pertimbangan pribadi.


Sistem Kamera RLT 35 mm

Peralatan pokok memotret pemandangan adalah kamera R LT (ref leks lensa tunggal)/ SLR (Single-lens Reflex) 35mm. Kamera ini dapat dikendalikan secara manual. Untuk mendapatkan hasil foto yang memuaskan dan kreatif, semua proses kerja harus dilakukan secara manual. Artinya, kita mengendalikan tahap demi tahap pembentukan gambar yang diinginkan.

Kamera yang dilengkapi pengukur cahaya titik akan banyak membantu. Dengannya, kita bisa mengukur perbedaan kecerahan pada beberapa area yang ada saat pemotretan.

Sehingga, kita bisa mengetahui, apakah seluruh kecerahan yang ada bisa terekam dengan baik dalam film atau tidak. Jika memiliki pengukur genggam titik, maka alat ini akan sangat membantu kita menghadapi keadaan cahaya yang sulit dan membutuhkan ketelitian pengukuran. Misalnya, cahaya belakang (back­lighting).

Sebenarnya, satu badan kamera saja sudah cukup. Tetapi, saya lebih suka menggunakan 2 badan kamera sewaktu bekerja. Satu sebagai kamera utama, yang lebih sering saya gunakan untuk membidik dengan film slide warna. Sedangkan kamera kedua, menggunakan film negatif warna atau film hitam putih (tergantung keperluan), sekaligus berfungsi sebagai kamera cadangan.


Memilih Lensa

Pemilihan lensa tergantung pada apa yang akan ditampilkan dalam foto. Fotografer pemandangan biasanya hanya menggunakan satu atau dua lensa kesukaannya. Mereka biasanya memiliki cara pandang tertentu, baik bentuk, ruang dan kecerahan. Dengan demikian, mereka cenderung menggunakan lensa yang sama untuk berbagai macam gambarnya.

Sebenarnya tidak ada ada aturan khusus tentang penggunaan lensa untuk membidik pemandangan alam. IMamun, umumnya fotografer lebih banyak menggunakan jenis lensa sudut lebar. Jenis lensa ini bisa menangkap pandangan lebih luas. Dampaknya, kebesaran serta keindahan alam akan lebih terasa.

Jika kita ingin berkonsentrasi pada suatu bentuk atau detail tertentu, mungkin salah satu bagian dari bentangan alamnya atau gejolaknya, maka kita bisa menggunakan lensa panjang (telephoto lens). Ada juga fotografer pemandangan yang menggunakan lensa zoom telefoto 80-200 mm sebagai lensa favoritnya.


Sewaktu memotret pemandangan, biasanya kita membutuhkan kedalaman ruang tajam yang lebih luas, atau kadang ingin menampilkan lebih banyak subjek dalam barisanatau susunan tertentu Untuk keperluan seperti ini, kita bisa menggunakan lensa sudut lebar antara 15-28 mm. Dengan pandangan seluas kira-kira 70 - 110°, maka kita bisa menangkap susunan bentuk bentangan alam yang lebih lengkap. Alhasil, kita bisa mempei-oleh keindahan alam dalam perspektif lebih lengkap.

Lensa 35 mm atau 50 mm bisa juga digunakan, terutama untuk berkonsentrasi pada subjek tertentu atau memperoleh pandangan yang lebih terbatas dari pemandangan tersebut. Saya lebih sering menggunakan lensa sudut lebar 24 mm (super wide-angle lens) sebagai lensa utama. Melalui lensa ini, saya dapat memperoleh luas pandangan memadai, dan berkonsentrasi pada keindahan panorama secara menyeluruh.

Membidik dengan lensa sudut lebar seperti ini, biasanya membutuhkan ketepatan penajaman (focusing). Karena, semua elemen-elemen gambartampil dalam skala sangat kecil. Saking kecilnya, seringkali elemen tersebut tidak begitu jelas terlihat pada jendela bidik, apakah mereka telah mencapai penajaman yang optimal atau tidak.

Lensa telefoto juga bisa memberi dampak lain terhadap pemandangan yang direkam.

Melalui lensa ini, kita bisa membatasi pandangan dan berkonsentrasi pada subjek tertentu saja. Terutama pada hal-hal yang tampil unik.

Sebaiknya, kita membatasi jumlah lensa yang dibawa. Pilihlah lensa-lensa favorit yang akan digunakan saja. Membawa bermacam-macam lensa akan menjadi beban yang berat. Dan juga, akan banyak waktu terbuang untuk memperhatikan dan menjaga semua peralatan yang dibawa. Akibatnya, konsentrasi dan perhatian kita terhadap subjek menjadi berkurang.


Sistem Kamera Sedang & Besar

Jikalau kita ingin mendapatkan kualitas lebih baik lagi, kita bisa menggunakan sistem kamera format sedang (medium format camera). Kamera jenis ini memang didesain untuk memberikan kualitas rekaman gambar yang letaih baik lagi. Format filmnya mulai dari 6 x 4,5 cm sampai 6x12 cm. Lebih besar dari format film 35 mm (24 x 36 mm) yang digunakan pada kamera RLT. Dengan ukuran film yang lebih besar ini, maka lebih banyak detil dan gradasi warna yang mampu ditangkap. Hasilnya, gambar pun mampu tampil dengan detil dan nada warna yang lebih kaya.

Demi mendapatkan kualitas puncak (ultimate quality), mau tidak mau kita harus menggunakan kamera format besar (large format cam­era). Ukuran filmnya lebih besar dari medium format, 4x5 inci (9 x 12 cm) atau 8 x 10 inci (19 x 24 cm). Dengan ukuran film lebih besar, kemampuan pengendalian ketajaman dan pengaturan perspektif yang


Pengukur cahaya Pentax Digital Spotmeter, teknik pengukuran titik.

sempurna, maka kita bisa mendapatkan gambar dengan kual itas rekaman yang luar biasa. Setiap detil dapat direkam mendekati kesempurnaan pandangan mata kita. Sehingga, pemandangan tersebut seolah-olah pindah dan ada di hadapan kita. Banyak fotografer pemandangan yang menggunakan kamera format besar.


Tripod & Filter

Kaki tiga (tripod) merupakan salah satu perlengkapan yang perlu dibawa. Penyangga kamera ini sangat diperlukan saat memotret suasana matahari terbit atau terbenam, serta berbagai keadaan alam sekitarnya. Kondisi cahaya redup saat itu menuntut kita menggunakan kecepatan rana rendah, terutama mereka yang menggunakan lensa telefoto dengan bukaan diafragma terbatas.

Filter juga sering menjadi perlengkapan yang berguna untuk memotret pemandangan. Yang paling utama, filter polarizing, berfungsi untuk mengurangi berbagai refleksi cahaya yang tidak diinginkan. Sehingga, kita bisa memperoleh foto dengan warna-warna lebih jernih dan lebih jenuh. Seperti, memperbaiki tampilan langit menjadi lebih biru atau tampilan air yang lebih jernih di pantai.

Filter lain yang juga berguna adalah filter gradasi (graduated fil­ters). Filter ini dapat menurunkan tingkat kecerahan langit, sehingga bisa direkam film secara baik. Hanya, kita harus berhati-hati memilih dan menggunakan gradasi warna. Supaya, tampilan gambar tidak menjadi aneh.


Film ISO Rendah Lebih Baik

Film warna yang tersedia di pasaran adalah film cahaya siang (day­light), yang memang sesuai untuk pemotretan dengan cahaya matahari. Memang, cahaya matahari yang ada sepanjang hari berubah-ubah akibat perbedaan cuaca. Akibatnya, terjadi sedikit penyimpangan warna pada hasil foto. Tetapi, penyimpangan nada warna ini hanya sedikit sekali, sehingga bisa dikoreksi saatfotonya dicetak. Karena itu, terjadinya sedikit penyimpangan ini seringkali tidak menganggu keindahan fotonya. Bahkan, seringkali fotografer menggunakan karakter cahaya yang ada, meskipun keseimbangannya menyimpang, menjadi faktor yang tnemperkuat suasana serta menjadi ciri khas penampilan gambarnya.

Karena kita lebih sering memotret pemandangan dalam keadaan cahaya alam yang lemah pada pagi atau sore hari, maka lebih menguntungkan jika kita menggunakan film ISO tinggi. Masalahnya, makin tinggi ISO film, makin besar butiran emulsinya. Akibatnya, gambarnya pun semakin kasar. Dalam foto pemandangan, kita membutuhkan rekaman detail kecil secara sempurna. Maka, kekasaran butiran film akan merusak keindahan gambar secara keseluruhan. Penyebabnya, tekstur butiran kadang-kadang tampil lebih kuat dan mengurangi ketajaman gambar.

Karena kita membutuhkan rekaman detail sangat akurat, maka penggunaan film dengan kecepatan (ISO) lebih rendah akan lebih baik demi tampilan gambarnya. Tetapi, film dengan kecepatan rendah (ISO 100 atau lebih rendah) seperti ini membutuhkan cahaya alam yang cukup cerah. Hal ini mungkin menjadi sulit jika kita memotret pada pagi atau sore hari. Sebab, cahaya alam yang ada saat itu terbatas kecerahannya. Kita membutuhkan berbagai peralatan tambahan lain, terutama kaki tiga untuk merekam alam dengan kecepatan rana rendah atau bahkan sangat lambat.


Warna atau Hitam Putih?

Kita bisa menggunakan film apa saja. Film hitam putih dapat menghantarkan karakter alam secara baik. Ini disebabkan, kekuatan tampilan bentuk dan gradasi nada hitam-putih tidak dipengaruhi oleh berbagai warna. Namun, untuk tampilan terbaik, kita harus memahami pemindahan berbagai warna menjadi gradasi hitam-putih lalu menyusunnya dengan serasi.

Menggunakan film warna juga menguntungkan.

Dengannya, kita mampu merekam warna-warna alam yang menarik. Umumnya film ISO 100 merupakan film negatif warna favorit, bahkan dapat dikatakan sebagai fi Im standar memotret pemandangan alam dan berbagai subjek lainnya. Dengan film ISO 100, umumnya kita bisa memperoleh kecepatan rana cukup tinggi, 1/60 detik bahkan sampai 1/500 detik pada bukaan f/5,6 dalam kecerahan cahaya matahari pagi atau sore hari.

Tetapi, jangan takut menggunakan kecepatan yang lebih rendah lagi, jika cahaya alam yang ada memang sangat lemah. Untuk film slide warna, saya lebih suka menggunakan film ISO 100 atau 50. Film dengan peringkat ISO seperti ini mampu memberikan kehalusan gambar yang optimal. Walaupun, kita akan menghadapi banyak sekali kesulitan dengan film ini karena kecepatan rana yang dapat digunakan sangat terbatas. Kecuali, jika cahaya matahari yang ada sangat cerah.

Kita akan sulit mengharapkan foto pemandangan yang bagus hanya dengan mengandalkan kemampuan dasar memotret. Apalagi dengan menggunakan peralatan seadanya. Kondisi alam pun sulit diduga dan dimengerti. Ini berarti diperlukan kemampuan teknis, pengalaman cukup banyak, dan peralatan kerja memadai untuk menghadapi berbagai tantangan ini. Negeri kita ini kaya dengan pemandangan alam, tetapi menambangnya perlu usaha dan kerja keras. Tetapi percayalah, tidak ada usaha yang sia-sia.


Publikasi : Majalah fotomedia
Penulis : Makarios soekojo

Teknis Fotografi & Fungsinya

Fotografi bukan segalanya tentang kamera. Dikatakan bahwa fotografi adalah seni bermain dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya, maka mustahil fotografi itu ada. Menghasilkan sebuah gambar yang bagus, harus memiliki visi yang kuat dalam hal ‘melihat’. Memperhatikan cahaya, komposisi dan momen adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam membuat foto yang dapat dikategorikan ‘bagus’.

Namun, sepertinya mustahil dapat menghasilkan foto seperti itu jika tidak mengenal dan memahami dari masing-masing teknis fotografi dasar. Fotografi memang bukan segalanya tentang kamera, namun kamera adalah alat untuk menyalurkan visi kita itu. Maka, sekiranya perlu mengenal dan memahami bagaimana kamera bekerja.

Tugas utama dari kamera adalah mengatur intensitas cahaya yang masuk dan pada akhirnya mengenai film/sensor (selanjutnya saya sebut medium). Apabila, kamera mengizinkan terlalu banyak cahaya yang masuk maka medium akan terbakar (overexposed). Dan sebaliknya. Bagaimana agar cahaya yang masuk itu tidak berlebih dan tidak kurang, atau dengan kata lain ‘pas’. Berikut saya jabarkan satu-satu.

Aperture
Atau yang sering juga disebut dengan difragma atau bukaan lensa adalah berfungsi untuk mengatur seberapa besar lensa akan terbuka. Fungsi ini lebih tepatnya terletak pada lensa. Logikanya, semakin besar bukaannya, maka akan semakin banyak cahaya yang akan masuk. Seperti sebuah kran air. Semakin besar kita buka keran tersebut maka akan semakin banyak air yang akan keluar.

Penulisan Aperture yang benar adalah f/x. Sehingga apabila dikatakan nilai Aperture-nya adalah 5.6, maka penulisan yang benar adalah f/5.6. Jadi jangan bingung apabila ada yang bilang bahwa bukaan lensa 2.8 lebih besar dari bukaan lensa 5.6. Karena kalau secara penulisan matematisnya memang benar khan? (f/2.8>f/5.6) Tapi kebanyakan kita malas untuk bilang f/2.8 atau f/5.6, karena kita orangnya simpel sih…

Efek Samping dari Aperture
Seperti obat batuk yang memiliki efek samping, begitu juga dengan aperture. Efek sampingnya adalah semakin besar bukaan lensa, maka akan semakin kecil daerah fokusnya. Dan sebaliknya. Daerah fokus inilah yang biasa dikenal dengan DOF (Depth of Field).

Shutter Speed
Atau yang biasa disebut juga dengan speed atau kecepatan rana bertugas untuk mengatur berapa lama mirror terbuka lalu menutup kembali untuk membatasi berapa banyak cahaya yang akan masuk. Seperti teori keran, apabila kita membuka keran terlalu lama, maka wadah penampung air tadi akan kelebihan sehingga akan meleber keluar. Kalau dalam kasus fotografi, medium akan terbakar.

Penulisan shutter speed yang benar adalah 1/x. Sehingga apabila dikatakan bahwa sebuah foto menggunkanan speed 60, maka penulisannya yang benar adalah 1/60 detik. Jadi jangan bingung kalau dikatakan bahwa speed 60 lebih cepat dibandingkan 30. karena secara penulisan matematis memang begitu khan?

Efek Samping dari Shutter Speed
Seperti berpacaran yang memiliki efek samping, seperti sulit melirik wanita/pria lain, begitu juga dengan shutter speed. Semakin cepat shutter speed, maka akan gambar akan semakin terlihat diam (freeze). Dan sebaliknya, apabila speed terlalu lamban gambar akan terlihat blur dikarenakan gerakan yang terlalu cepat, sehingga objek terlihat bergerak sangat cepat.


ISO atau ASA
Adalah tingkat sensitifitas medium dalam menerima cahaya. Semakin tinggi nilainya, maka akan semakin tingkat sensitifitasnya. Artinya, apabila kita merubah nilai ISO atau ASA ini menjadi lebih tinggi, sedangkan aperture dan speednya tidak diubah, maka medium akan menerima cahaya lebih banyak. Dan sebaliknya.

Efek Samping ISO atau ASA
ISO adalah tingkat sensitifitas sensor (medium), sedangkan ASA adalah tingkat sensitifitas film (medium), jadi perbedaannya hanya dimediumnya saja. Tapi logikanya sama. Kecuali efek sampingnya. Dimana apabila menggunakan film ASA tinggi, maka gambar akan terlihat grainy (berbentuk titik kecil namun banyak). Sedangkan penggunaan ISO tinggi akan menghasilkan noise (seperti bentuk cacing namun banyak).